(",)

Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2014

Skala Prioritas

Mari kita bicara skala prioritas..

kenapa ya.. ada kata skala sebelum kata prioritas..
mari kita bahas apa itu skala..
skala merupakan perbandingan antar kategori dimana masing-masing kategori di beri nilai yang berbeda.. (wikipedia) kalau saya secara umum memandang skala adalah perbandingan nominal antar beberapa objek.

dan prioritas adalah n (baca: nilai) yang didahulukan dan diutamakan (KBBI)

skala prioritas = mendahulukan sesuatu yang memiliki n yang besar.

sebagian orang susah untuk menentukan skala prioritasnya,
sebenarnya caranya mudah, yaitu dengan mendahulukan n yang lebih besar dan penting.

saya mau cerita sedikit..

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

di suatu pagi di sebuah kampus terbesar Indonesia, telah berkumpul mahasiswa di ruangan sembari menunggu dosen datang, para siswa sibuk menyiapkan bahan untuk pelajaran kali ini. para mahasiswa ditugaskan membawa :

1. botol 1.5 lt yang di potong atasnya.
2. pasir
3. kerikil 1-2 cm
4. kerikil 6-8 cm

para mahasiswa teknik sipil ini beranggapan pelajaran kali ini akan membahas tentang material, tes kualitas dan penggunaan masing-masing material tersebut.

dosen pun datang, memberi salam dan menuliskan sesuatu di papan putih, ternyata dugaan para mahasiswa semuanya salah tentang pelajaran kali ini.. bukan tentang tes kualitas ataupun penggunaan material yg mereka bawa, namun tentang hal penting yang lain.. yaitu,

S K A L A    P R I O R I T A S (tanda seru tiga)

2 kata itulah yang di tuliskan dosen, mahasiswa makin bingung, apa kegunaan material yang mereka bawa.
di belakang ada yang nyeletuk, "ngapain bawa ginian susah-susah ngotorin tas gue aje" dosen masih berdiri menghadap para mahasiswa dan menugaskan mereka untuk memasukkan semua material yang mereka bawa kedalam botol tsb. dosen pun langsung duduk.

setelah semua mahasiswa memasukkan material pasir, kerikil, dan batu, dosen mulai berkeliling dan mengambil 2 sample dari 2 orang mahasiswa kemudian membawanya ke depan ruangan..

" apa hubungannya kata yang saya tulis ini dengan botol yang berisikan pasir, kerikil dan batu ini" dosen bertanya pada 2 orang didepan, karena hanya diam saja, kemudian bertanya lagi pada semua mahasiswa yang di ruangan."

masih diam, dosen pun menjelaskan, " ada dua contoh yang saya ambil isinya sama, namun susunannya berbeda,. dalam pelaksanaan konstruksi, kita harus mengetahui susunan atau urutan pelaksanaan pekerjaan, mulai dari yang besar hingga yang detail sekalipun, salah satu saja dalam pelaksanaan bisa berakibat fatal."

"ini adalah contoh skala prioritas" berkata dosen, sambil menunjuk ke arah 2 botol tsb. "anggap batu besar itu masalah atau mimpi yg besar, dan batu sedang ini mimpi atau masalah yg sedang, dan pasir ini masalah atau mimpi yang kecil" lanjut dosen

"jika kalian memasukkan pasir dahulu ke dalam botol ini, lalu kerikil kecil, maka batu yg besar ini tidak akan bisa masuk semua ke dalam botol ini," sembari menunjuk salah satu botol.
"dan jika kalian memasukkan batu besar dahulu, kemudian kerikil kecil lalu pasir, maka kalian bisa memasukkan semuanya dan mendapatkan botol tanpa celah, penuh dan berat." sembari menunjuk botol yang lain.

"sama halnya seperti konstruksi rumah misalnya, jika membuat dinding dlu batu pondasi aneh toh.." dengan nada bercanda.

" begitulah gambaran skala prioritas, bukan hanya dalam konstruksi tapi tentang semua aspek kehidupan, seperti masalah yang kau hadapi sampai mimpi yang engkau cita-citakan.."

"sekian kuliah dari saya, semuanya saya beri tugas membuat susunan 1 pelaksanaan konstruksi, terserah mau konstruksi apapun, waktunya satu minggu, disertai power point maksimal 3 sheet" berkata dosen, dan kemudian meninggalkan ruangan.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

enak ya.. dosen kayak gitu.. ya.. this all about skala prioritas.
engkau yang lebih tau mana yang menurut mu penting, mana yang menurutmu biasa aja, mana yang menurutmu kecil.

1. besar mendesak
2. besar tidak mendesak
3. kecil mendesak
4. kecil tidak mendesak

dear blogger.. segini aja ya..
semoga bisa diambil hikmahnya..

dari sudut tambak garam desa bendungan, cirebon
21 Syawal 1435 H
18 Agustus 2014 M

oleh : KubilKamal

Jumat, 14 Desember 2012

Ka'ab bin Malik : "saya tidak punya alasan"

Implementasi al-wala' wal baro` dalam kehidupan nyata seringkali difahami salah atau tidak tergambar dalam benak kaum muslimin bagaimana sesungguhnya. Marilah kita tengok kisah nyata sebagai teladan yang baik bagi kita dalam hal ini.

Adalah Ka’ab bin Malik seorang shahabat mulia diantara 3 shahabat yang tertinggal dalam perang Tabuk. Ia sangat menyesal dengan absennya pada ibadah jihad yang mulia ini, rasa penyesalan yang tiada terkira karena ia benar-benar tertinggal dari pasukan yang berangkat akibat kelalaiannya dia sendiri dengan mengulur-ulur waktu dalam mempersiapkan keberangkatannya. Rasa sedih yang mendalam yang dia alami, ia pula merasa seakan sudah menjadi seorang munafik sebagaimana orang-orang munafik lainnya yang dengan sengaja menghindar dari “kewajiban” ini, apalagi jika ia teringat bahwa untuk perang yang satu ini Rasûlullâh saw sendiri menyerukan mobilisasi umum kepada kaum muslimin saat itu dan instruksi untuk mendermakan harta sebagai infâq fî sabîlillâh bagi perbekalan pasukan untuk perang yang besar ini. 

Disaat orang-orang munafik yang jumlahnya lebih dari 80 orang menghadap Rasûlullâh saw dan mengutarakan alasan-alasan mereka dengan kedustaan dan kebohongan. Ka’ab bin Malik datang menemui Nabi saw yang mulia guna menyampaikan alasan ketidak-ikutsertaannya. Ia sebenarnya bisa memberikan alasan yang bisa dibuat-buat dengan berdusta, dan Rasûlullâh saw akan membenarkan perkataanya. Tetapi ia bukanlah seorang munafik, ia sadar bahwa ALLÂH tidak mungkin untuk ditipu dan Rasûlullâh saw tidak semestinya dikhianati. Ia rela apapun yang akan terjadi dan hukuman yang bakal diterimanya, karena memang ia seorang mukmin dan mujahid sejati, sehingga dengan jujur dia berkata “…… Demi ALLÂH , saya tidak memiliki alasan apapun….”.

Inilah dia sekarang harus menerima sanksi yang diberikan Rasûlullâh saw dan para shahabatnya atas ketidak ikutsertaanya dalam perang Tabuk. Hari-hari yang membuatnya bertambah kesedihannya,bukan semata-mata dari hukumannya itu sendiri, akan tetapi sebagai seorang mukmin yang sesungguhnya, ia khawatir digolongkan orang-orang munafiq dan ALLAH Azza wa Jalla tidak mengampuni kesalahannya. Pekan-pekan berlalu ia lalui dengan tubuh yang gontai, jiwa yang selalu gelisah dan perasaan pilu karena Rasûlullâh saw tidak pernah menjawab lagi salam yang diucapkannya,… Demikian pula para shahabat yang lain, tidak satupun dari mereka menjawab salamnya atau walau hanya sekedar berbicara sepatah dua patah kata, mereka membisu dan membuang muka tidak menghiraukannya, seolah dia adalah sebongkah batu yang tidak layak diajak berbicara. Begitulah, karena hal itu memang atas perintah dari Rasûlullâh saw yang melarang untuk berbicara dengan mereka bertiga, Dan yang demikian membuat hati-hatinya terasa diiris-iris, karena dia khawatir sudah tidak digolongkan orang mukmin lagi.

Ka’ab bin Malik menceritakan sendiri apa yang dialaminya, ”kami tetap dalam keadaan seperti itu selama 50 hari. Kedua shahabatku tetap patuh tinggal dirumah masing-masing sambil selalu menangis, sedangkan aku adalah yang paling muda dan paling tabah. Maka akupun tetap keluar mengikuti shalat jama’ah bersama kaum muslimin dan berkeliling dipasar-pasar, akan tetapi tak ada seorangpun yang mengajak berbicara denganku, aku mendatangi Rasûlullâh saw, aku mengucapkan salam kepada beliau yang saat itu sedang duduk sehabis shalat. aku berkata dalam hati,”apakah beliau menggerakkan bibirnya untuk membalas salamku atau tidak ?”. Kemudian aku shalat didekat beliau, aku ikuti pandangan beliau sambil sambil, ternyata disaat aku shalat, beliau selalu memandangku, akan tetapi setelah aku shalat dan aku menoleh kepadanya, beliaupun membuang muka… “ 

Ia melanjutkan kisahnya “… demikianlah keadaan seperti itu berlangsung lama, dimana kaum muslimin tak mengacuhkan aku. Suatu hari aku berjalan kerumah Abu Qotadah dan memanjat pagar rumahnya, ia adalah anak pamanku dan orang yang paling aku cintai. Kemudian aku ucapkan salam kepadanya. Demi ALLÂH , ia sama sekali tidak menjawab salamku. Lalu kukatakan “ Hai Abu Qotadah, semoga ALLÂH membimbingmu, apakah engkau tahu sesungguhnya aku mencintai ALLÂH dan Rasul-Nya ?.... namun Abu Qotadah diam membisu. Selanjutnya kuulangi ucapanku yang pertama, namun ia tetap tidak menjawab. Maka hal itu kuulangi sekali lagi, tetaapi ia tidak memberikan jawaban. Lalu Abu Qotadah berujar “ALLÂH dan Rasul-Nya lebih mengetahui”….. Maka kedua mataku pun menangis mencucurkan air mata, lalu akupun pergi meninggalkan dinding itu…
Dan ketika berjalan dipasar Madinah, tiba-tiba ada seseorang dari penduduk syam (syiria) menawarkan makanan yang dijualnya di Madinah. Orang itu berkata, “siapakah yang dapat menunjukkan aku kepada Ka’ab bin Malik ?”. Maka orang-orangpun menunjukkannya dengan mengisyaratkan tangan kearahku. Maka iapun menemuiku dan menyerahkan surat dari raja Ghossan. akupun membacanya yang isinya : ….Amma ba’du, kami telah mendengar berita, bahwasannya shahabatmu (Muhammad) telah mengucilkanmu. Dan sesungguhnya ALLÂH tidak menjadikanmu dinegeri ini hina dan sia-sia. Oleh karenannya bergabunglah dengan kami, aku akan menolongmu”

Begitulah ia harus melewati hari-harinya yang pahit, waktu yang panjang yang harus dia lalui dalam kesedihan, rasa cemas dan gelisah. Sikap Rasûlullâh saw dan kaum muslimin kepadanya sudah membuatnya pilu. Bumi yang luas dirasakannya telah menjadi sempit baginya. Tiada hari yang ia lalui kecuali dengan jeritan hati kepedihan… tiada malam yang dilewati kecuali dengan perasaan sedih. Kini ujianpun bertambah pula, Ghossan, yang merupakan raja orang-orang nasrani di syam yang selama ini memusuhi kaum muslimin, turut memanfaatkan situasi ini. Kini ia dibujuk untuk bergabung dengan musuh yang selama ini pula ia berperang melawannya…. Rayuan yang halus dengan tawaran yang menjanjikan untuk kehidupannya… sebuah ujian berat yang semakin menambah ujian yang selama ini sudah ia derita.

Namun ia seorang mukmin sejati. Kejujurannya dihadapan Rasûlullâh saw atas ketidak ikutsertaannya dalam perang tabuk cukup menjadi modal untuk selalu mendahulukan ALLÂH ,Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Bujukan dunia dan materi yang menggiurkan tidak membuatnya goyah, ia tetap tegar menunggu keputusan ALLÂH dari atas langit apa yang akan dia terima dengan kesalahannya. Ia lebih mencintai orang-orang mukmin dan mengharap keridhaan ALLÂH dan Rasul-Nya. Dengarlah teladan kita ini apa yang dia katakan ketika selesai membaca surat itu. ia berkata, “Demi ALLÂH …! ini juga termasuk ujian”…. Subhaanallah, ucapan keteguhan dalam memegang prinsip-prinsip kecintaan dan permusuhan yang terpatri dalam jiwanya yang luhur…. dan tak cukup disitu, sejurus kemudian ia juga membakar surat itu diperapian. 

Setelah mereka bertiga ditempa dengan ujian demi ujian keimanan, ALLÂH pun menerima taubat mereka pada hari ke 50. Pengampunan dan sekaligus penghargaan yang datang dari atas langit ketujuh dengan turunnya ayat 118 surah at-taubah.

Pelajaran dan ‘ibroh yang besar bagi kita dari jiwa-jiwa yang agung dalam sejarah islam, seharusnya menjadi teladan yang senantiasa ada dalam kehidupan nyata kita hari ini. Hal itu tidaklah mustahil, asalkan kita tetap memegang prinsip-prinsip yang benar yang ditunjukkan oleh ajaran Islam. 

Selain contoh sikap al-wala' dan al-baro' diatas, contoh kejujuran dan keteguhan menjadi sorotan pelajaran yang harus ditiru. Disamping kita coba memahami kembali betapa besar dosa dan kesalahan bagi orang-orang yang meninggalkan jihad tanpa udzur syar'i dikala jihad fardlu ‘ain sebagaimana perang tabuk kala itu, yang seharusnya kita berkaca untuk memperhatikan kewajiban jihad hari ini yang juga sudah merupakan fardlu ‘ain, sampai kembalinya tanah terakhir kepangkuan islam dari tanah-tanah yang dahulunya ditegakkan syari’at islam.

Wallahu a’lam.

*** Rujukan : Tafsir Ibnu Katsir (surah attaubah : 118) ; Al-wala walbaro fil-islam (syekh Muhammad Said bin al-Qahthani) ; dan Dibawah Naungan surah at-taubah (syekh Abdullah Azzam rahimahullah).

Memberi Pinjaman Kepada Allah

Kisah yang patut direnungkan. Semoga bisa memotivasi kita untuk berinfaq di jalan Allah.
Allah Ta’ala berfirman,


مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al Hadid: 11)
‘Umar bin Khottob mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah berinfaq di jalan Allah. Ada pula yang mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah memberi nafkah pada keluarga.

Yang tepat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir bahwa yg dimaksudkan dengan ayat ini adalah berinfaq di jalan Allah secara umum (baik itu di jalan Allah atau menafkahi keluarga) dengan niat yg ikhlas dan tekad yg jujur, ini semua tercakup dlm ayat di atas.

Ayat di atas semisal dengan firman Allah Ta’ala,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS. Al Baqarah: 245)

Kisah Abu Dahdaa

‘Abdullah bin Mas’ud menceritakan bahwa tatkala turun ayat di atas (surat Al Hadid ayat 11), Abud Dahdaa Al Anshori mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Betul, wahai Abud Dahdaa.”
Kemudian Abud Dahdaa pun berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah tanganmu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyodorkan tangannya. Abud Dahdaa pun mengatakan, “Aku telah memberi pinjaman pada Rabbku kebunku. Kebun tersebut memiliki 600 pohon kurma.

Ummud Dahda, istri dari Abud Dahdaa bersama keluarganya berada di kebun tersebut, lalu Abud Dahdaa datang dan berkata, “Wahai Ummud Dahdaa!” “Iya,” jawab istrinya.
Abud Dahdaa mengatakan, “Keluarlah dari kebun ini. Aku baru saja memberi pinjaman kebun ini pada Rabbku.”
Dalam riwayat lain, Ummud Dahdaa menjawab, “Engkau telah beruntung dengan penjualanmu, wahai Abud Dahdaa.”
Ummu Dahda pun pergi dari kebun tadi, begitu pula anak-anaknya.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun terkagum dengan Abud Dahdaa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Begitu banyak tandan anggur dan harum-haruman untuk Abud Dahdaa di surga.” Dalam lafazh yang lain dikatakan, “Begitu banyak pohon kurma untuk Abu Dahdaa di surga. Akar dari tanaman tersebut adalah mutiara dan yaqut (sejenis batu mulia).”
(Riwayat ini adalah riwayat yang shahih. Dikeluarkan oleh Abdu bin Humaid dalam Muntakhob dan Ibnu Hibban dalam Mawarid Zhoma’an)
Masya Allah …Adakah di antara kaum muslimin saat ini yang bisa memberi pinjaman di jalan Allah seperti ini?

Inilah investasi yg baik di jalan Allah. Ini bukan berarti Allah butuh pada pinjaman seorang hamba. Namun sebenarnya, hamba-lah yang butuh dengan hal seperti ini dan itu semua juga ia akan menuai hasilnya di akhirat. Ini adalah karunia Allah agar hamba tersebut mendapatkan ganti yanga lebih baik di akhirat kelak.

Semoga Allah memberikan kita anugerah dan berkah pada segala harta titipan-Nya yang kita investasikan di jalan Allah.

Referensi: Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Tafsir surat Al Hadiid ayat 11, 13/414-415, Muassasah Qurthubah

kisah unik dua Sahabat

Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita shalihah telah menarik perhatiannya.  Tapi bagaimanapun, Madinah bukanlah tempat ia tumbuh dewasa. Ia berpikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi urusan pelik bagi seorang pendatang seperti Salman. Maka, disampaikanlah gejolak hati itu kepada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

“Subhanalloh, Walhamdulillah..” senang hati Abu Darda’ mendengarnya. Setelah persiapan, beriringanlah kedua sahabat itu menuju rumah wanita sholihah yang dimaksud.

“Saya Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam. Ia juga telah memuliakan islam dengan amal dan jihadnya. Salman memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”

Dibalaslah oleh orangtua wanita shalihah tersebut, “Adalah kehormatan bagi kami menerima Anda sahabat Rasulullah yang mulia. Dan suatu penghargaan bagi kami  bermenantukan seorang sahabat yang Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.
“Maafkan kami atas keterusterangan ini. Dengan mengharap Ridho Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar prediksi. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Ironis sekaligus indah. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah  dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Yup, Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar apa yang dikatakan Salman:

“ Allahu Akbar! Semua mahar yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’ dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”


(disadur dari Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” karya Salim A. Fillah)

Senin, 29 Oktober 2012

Foto" Sholat & sujud yg mengagumkan

Sholat itu hukumnya wajib..
seperti hal bangunan, sholat adalah tiang penyangganya, tanpa tiang tsb, bangunan tak akan bisa berdiri kokoh..
















































my facebook

Popular post

-.-