Implementasi
al-wala' wal baro` dalam kehidupan nyata seringkali difahami salah atau
tidak tergambar dalam benak kaum muslimin bagaimana sesungguhnya.
Marilah kita tengok kisah nyata sebagai teladan yang baik bagi kita
dalam hal ini.
Adalah
Ka’ab bin Malik seorang shahabat mulia diantara 3 shahabat yang
tertinggal dalam perang Tabuk. Ia sangat menyesal dengan absennya pada
ibadah jihad yang mulia ini, rasa penyesalan yang tiada terkira karena
ia benar-benar tertinggal dari pasukan yang berangkat akibat
kelalaiannya dia sendiri dengan mengulur-ulur waktu dalam mempersiapkan
keberangkatannya. Rasa sedih yang mendalam yang dia alami, ia pula
merasa seakan sudah menjadi seorang munafik sebagaimana orang-orang
munafik lainnya yang dengan sengaja menghindar dari “kewajiban” ini,
apalagi jika ia teringat bahwa untuk perang yang satu ini Rasûlullâh saw
sendiri menyerukan mobilisasi umum kepada kaum muslimin saat itu dan
instruksi untuk mendermakan harta sebagai infâq fî sabîlillâh bagi
perbekalan pasukan untuk perang yang besar ini.
Disaat
orang-orang munafik yang jumlahnya lebih dari 80 orang menghadap
Rasûlullâh saw dan mengutarakan alasan-alasan mereka dengan kedustaan
dan kebohongan. Ka’ab bin Malik datang menemui Nabi saw yang mulia guna
menyampaikan alasan ketidak-ikutsertaannya. Ia sebenarnya bisa
memberikan alasan yang bisa dibuat-buat dengan berdusta, dan Rasûlullâh
saw akan membenarkan perkataanya. Tetapi ia bukanlah seorang munafik, ia
sadar bahwa ALLÂH tidak mungkin untuk ditipu dan Rasûlullâh saw tidak
semestinya dikhianati. Ia rela apapun yang akan terjadi dan hukuman yang
bakal diterimanya, karena memang ia seorang mukmin dan mujahid sejati,
sehingga dengan jujur dia berkata “…… Demi ALLÂH , saya tidak memiliki
alasan apapun….”.
Inilah
dia sekarang harus menerima sanksi yang diberikan Rasûlullâh saw dan
para shahabatnya atas ketidak ikutsertaanya dalam perang Tabuk.
Hari-hari yang membuatnya bertambah kesedihannya,bukan semata-mata dari
hukumannya itu sendiri, akan tetapi sebagai seorang mukmin yang
sesungguhnya, ia khawatir digolongkan orang-orang munafiq dan ALLAH Azza
wa Jalla tidak mengampuni kesalahannya. Pekan-pekan berlalu ia lalui
dengan tubuh yang gontai, jiwa yang selalu gelisah dan perasaan pilu
karena Rasûlullâh saw tidak pernah menjawab lagi salam yang
diucapkannya,… Demikian pula para shahabat yang lain, tidak satupun dari
mereka menjawab salamnya atau walau hanya sekedar berbicara sepatah dua
patah kata, mereka membisu dan membuang muka tidak menghiraukannya,
seolah dia adalah sebongkah batu yang tidak layak diajak berbicara.
Begitulah, karena hal itu memang atas perintah dari Rasûlullâh saw yang
melarang untuk berbicara dengan mereka bertiga, Dan yang demikian
membuat hati-hatinya terasa diiris-iris, karena dia khawatir sudah tidak
digolongkan orang mukmin lagi.
Ka’ab
bin Malik menceritakan sendiri apa yang dialaminya, ”kami tetap dalam
keadaan seperti itu selama 50 hari. Kedua shahabatku tetap patuh tinggal
dirumah masing-masing sambil selalu menangis, sedangkan aku adalah yang
paling muda dan paling tabah. Maka akupun tetap keluar mengikuti shalat
jama’ah bersama kaum muslimin dan berkeliling dipasar-pasar, akan
tetapi tak ada seorangpun yang mengajak berbicara denganku, aku
mendatangi Rasûlullâh saw, aku mengucapkan salam kepada beliau yang saat
itu sedang duduk sehabis shalat. aku berkata dalam hati,”apakah beliau
menggerakkan bibirnya untuk membalas salamku atau tidak ?”. Kemudian aku
shalat didekat beliau, aku ikuti pandangan beliau sambil sambil,
ternyata disaat aku shalat, beliau selalu memandangku, akan tetapi
setelah aku shalat dan aku menoleh kepadanya, beliaupun membuang muka…
“
Ia
melanjutkan kisahnya “… demikianlah keadaan seperti itu berlangsung
lama, dimana kaum muslimin tak mengacuhkan aku. Suatu hari aku berjalan
kerumah Abu Qotadah dan memanjat pagar rumahnya, ia adalah anak pamanku
dan orang yang paling aku cintai. Kemudian aku ucapkan salam kepadanya.
Demi ALLÂH , ia sama sekali tidak menjawab salamku. Lalu kukatakan “ Hai
Abu Qotadah, semoga ALLÂH membimbingmu, apakah engkau tahu sesungguhnya
aku mencintai ALLÂH dan Rasul-Nya ?.... namun Abu Qotadah diam membisu.
Selanjutnya kuulangi ucapanku yang pertama, namun ia tetap tidak
menjawab. Maka hal itu kuulangi sekali lagi, tetaapi ia tidak memberikan
jawaban. Lalu Abu Qotadah berujar “ALLÂH dan Rasul-Nya lebih
mengetahui”….. Maka kedua mataku pun menangis mencucurkan air mata, lalu
akupun pergi meninggalkan dinding itu…
Dan
ketika berjalan dipasar Madinah, tiba-tiba ada seseorang dari penduduk
syam (syiria) menawarkan makanan yang dijualnya di Madinah. Orang itu
berkata, “siapakah yang dapat menunjukkan aku kepada Ka’ab bin Malik ?”.
Maka orang-orangpun menunjukkannya dengan mengisyaratkan tangan
kearahku. Maka iapun menemuiku dan menyerahkan surat dari raja Ghossan.
akupun membacanya yang isinya : ….Amma ba’du, kami telah mendengar
berita, bahwasannya shahabatmu (Muhammad) telah mengucilkanmu. Dan
sesungguhnya ALLÂH tidak menjadikanmu dinegeri ini hina dan sia-sia.
Oleh karenannya bergabunglah dengan kami, aku akan menolongmu”
Begitulah
ia harus melewati hari-harinya yang pahit, waktu yang panjang yang
harus dia lalui dalam kesedihan, rasa cemas dan gelisah. Sikap
Rasûlullâh saw dan kaum muslimin kepadanya sudah membuatnya pilu. Bumi
yang luas dirasakannya telah menjadi sempit baginya. Tiada hari yang ia
lalui kecuali dengan jeritan hati kepedihan… tiada malam yang dilewati
kecuali dengan perasaan sedih. Kini ujianpun bertambah pula, Ghossan,
yang merupakan raja orang-orang nasrani di syam yang selama ini memusuhi
kaum muslimin, turut memanfaatkan situasi ini. Kini ia dibujuk untuk
bergabung dengan musuh yang selama ini pula ia berperang melawannya….
Rayuan yang halus dengan tawaran yang menjanjikan untuk kehidupannya…
sebuah ujian berat yang semakin menambah ujian yang selama ini sudah ia
derita.
Namun
ia seorang mukmin sejati. Kejujurannya dihadapan Rasûlullâh saw atas
ketidak ikutsertaannya dalam perang tabuk cukup menjadi modal untuk
selalu mendahulukan ALLÂH ,Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Bujukan
dunia dan materi yang menggiurkan tidak membuatnya goyah, ia tetap tegar
menunggu keputusan ALLÂH dari atas langit apa yang akan dia terima
dengan kesalahannya. Ia
lebih mencintai orang-orang mukmin dan mengharap keridhaan ALLÂH dan
Rasul-Nya. Dengarlah teladan kita ini apa yang dia katakan ketika
selesai membaca surat itu. ia berkata, “Demi ALLÂH …! ini juga termasuk
ujian”…. Subhaanallah, ucapan keteguhan dalam memegang prinsip-prinsip
kecintaan dan permusuhan yang terpatri dalam jiwanya yang luhur…. dan tak cukup disitu, sejurus kemudian ia juga membakar surat itu diperapian.
Setelah
mereka bertiga ditempa dengan ujian demi ujian keimanan, ALLÂH pun
menerima taubat mereka pada hari ke 50. Pengampunan dan sekaligus
penghargaan yang datang dari atas langit ketujuh dengan turunnya ayat
118 surah at-taubah.
Pelajaran
dan ‘ibroh yang besar bagi kita dari jiwa-jiwa yang agung dalam sejarah
islam, seharusnya menjadi teladan yang senantiasa ada dalam kehidupan
nyata kita hari ini. Hal itu tidaklah mustahil, asalkan kita tetap
memegang prinsip-prinsip yang benar yang ditunjukkan oleh ajaran Islam.
Selain
contoh sikap al-wala' dan al-baro' diatas, contoh kejujuran dan
keteguhan menjadi sorotan pelajaran yang harus ditiru. Disamping kita
coba memahami kembali betapa besar dosa dan kesalahan bagi orang-orang
yang meninggalkan jihad tanpa udzur syar'i dikala jihad fardlu ‘ain
sebagaimana perang tabuk kala itu, yang seharusnya kita berkaca untuk
memperhatikan kewajiban jihad hari ini yang juga sudah merupakan fardlu
‘ain, sampai kembalinya tanah terakhir kepangkuan islam dari tanah-tanah
yang dahulunya ditegakkan syari’at islam.
Wallahu a’lam.
*** Rujukan
: Tafsir Ibnu Katsir (surah attaubah : 118) ; Al-wala walbaro fil-islam
(syekh Muhammad Said bin al-Qahthani) ; dan Dibawah Naungan surah
at-taubah (syekh Abdullah Azzam rahimahullah).