(",)

Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Oktober 2015

Rawa Urip - Kali bangka Cirebon

2,5 tahun berlalu dan semua hanya tinggal cerita..

Zona-A entah sekarang namanya apa.
Dan Akhirnya bertemu dengan hal yang ku sebut sebagai hari ini, 10 Juli 2015
Penantian dari setiap pertemuan..
Tak ada hari esok dan hari ini, karna semua fikirku hanya ada masa lalu..
sebatas bayang dan sebatas ingatan..
semoga bekas tapakku bukan sekedar hanya..







Dulu ya dulu..
tak ada hakku mengurai lagi benang biru..
Berpuluh hariku hanya punya satu..
Sepanjang kenganku kau hanya punya bayang yang kau tak bisa lihat..
yakinku, kita tak akan lagi pernah bertemu aku dalam dirimu..

Jumat, 14 Desember 2012

Ka'ab bin Malik : "saya tidak punya alasan"

Implementasi al-wala' wal baro` dalam kehidupan nyata seringkali difahami salah atau tidak tergambar dalam benak kaum muslimin bagaimana sesungguhnya. Marilah kita tengok kisah nyata sebagai teladan yang baik bagi kita dalam hal ini.

Adalah Ka’ab bin Malik seorang shahabat mulia diantara 3 shahabat yang tertinggal dalam perang Tabuk. Ia sangat menyesal dengan absennya pada ibadah jihad yang mulia ini, rasa penyesalan yang tiada terkira karena ia benar-benar tertinggal dari pasukan yang berangkat akibat kelalaiannya dia sendiri dengan mengulur-ulur waktu dalam mempersiapkan keberangkatannya. Rasa sedih yang mendalam yang dia alami, ia pula merasa seakan sudah menjadi seorang munafik sebagaimana orang-orang munafik lainnya yang dengan sengaja menghindar dari “kewajiban” ini, apalagi jika ia teringat bahwa untuk perang yang satu ini Rasûlullâh saw sendiri menyerukan mobilisasi umum kepada kaum muslimin saat itu dan instruksi untuk mendermakan harta sebagai infâq fî sabîlillâh bagi perbekalan pasukan untuk perang yang besar ini. 

Disaat orang-orang munafik yang jumlahnya lebih dari 80 orang menghadap Rasûlullâh saw dan mengutarakan alasan-alasan mereka dengan kedustaan dan kebohongan. Ka’ab bin Malik datang menemui Nabi saw yang mulia guna menyampaikan alasan ketidak-ikutsertaannya. Ia sebenarnya bisa memberikan alasan yang bisa dibuat-buat dengan berdusta, dan Rasûlullâh saw akan membenarkan perkataanya. Tetapi ia bukanlah seorang munafik, ia sadar bahwa ALLÂH tidak mungkin untuk ditipu dan Rasûlullâh saw tidak semestinya dikhianati. Ia rela apapun yang akan terjadi dan hukuman yang bakal diterimanya, karena memang ia seorang mukmin dan mujahid sejati, sehingga dengan jujur dia berkata “…… Demi ALLÂH , saya tidak memiliki alasan apapun….”.

Inilah dia sekarang harus menerima sanksi yang diberikan Rasûlullâh saw dan para shahabatnya atas ketidak ikutsertaanya dalam perang Tabuk. Hari-hari yang membuatnya bertambah kesedihannya,bukan semata-mata dari hukumannya itu sendiri, akan tetapi sebagai seorang mukmin yang sesungguhnya, ia khawatir digolongkan orang-orang munafiq dan ALLAH Azza wa Jalla tidak mengampuni kesalahannya. Pekan-pekan berlalu ia lalui dengan tubuh yang gontai, jiwa yang selalu gelisah dan perasaan pilu karena Rasûlullâh saw tidak pernah menjawab lagi salam yang diucapkannya,… Demikian pula para shahabat yang lain, tidak satupun dari mereka menjawab salamnya atau walau hanya sekedar berbicara sepatah dua patah kata, mereka membisu dan membuang muka tidak menghiraukannya, seolah dia adalah sebongkah batu yang tidak layak diajak berbicara. Begitulah, karena hal itu memang atas perintah dari Rasûlullâh saw yang melarang untuk berbicara dengan mereka bertiga, Dan yang demikian membuat hati-hatinya terasa diiris-iris, karena dia khawatir sudah tidak digolongkan orang mukmin lagi.

Ka’ab bin Malik menceritakan sendiri apa yang dialaminya, ”kami tetap dalam keadaan seperti itu selama 50 hari. Kedua shahabatku tetap patuh tinggal dirumah masing-masing sambil selalu menangis, sedangkan aku adalah yang paling muda dan paling tabah. Maka akupun tetap keluar mengikuti shalat jama’ah bersama kaum muslimin dan berkeliling dipasar-pasar, akan tetapi tak ada seorangpun yang mengajak berbicara denganku, aku mendatangi Rasûlullâh saw, aku mengucapkan salam kepada beliau yang saat itu sedang duduk sehabis shalat. aku berkata dalam hati,”apakah beliau menggerakkan bibirnya untuk membalas salamku atau tidak ?”. Kemudian aku shalat didekat beliau, aku ikuti pandangan beliau sambil sambil, ternyata disaat aku shalat, beliau selalu memandangku, akan tetapi setelah aku shalat dan aku menoleh kepadanya, beliaupun membuang muka… “ 

Ia melanjutkan kisahnya “… demikianlah keadaan seperti itu berlangsung lama, dimana kaum muslimin tak mengacuhkan aku. Suatu hari aku berjalan kerumah Abu Qotadah dan memanjat pagar rumahnya, ia adalah anak pamanku dan orang yang paling aku cintai. Kemudian aku ucapkan salam kepadanya. Demi ALLÂH , ia sama sekali tidak menjawab salamku. Lalu kukatakan “ Hai Abu Qotadah, semoga ALLÂH membimbingmu, apakah engkau tahu sesungguhnya aku mencintai ALLÂH dan Rasul-Nya ?.... namun Abu Qotadah diam membisu. Selanjutnya kuulangi ucapanku yang pertama, namun ia tetap tidak menjawab. Maka hal itu kuulangi sekali lagi, tetaapi ia tidak memberikan jawaban. Lalu Abu Qotadah berujar “ALLÂH dan Rasul-Nya lebih mengetahui”….. Maka kedua mataku pun menangis mencucurkan air mata, lalu akupun pergi meninggalkan dinding itu…
Dan ketika berjalan dipasar Madinah, tiba-tiba ada seseorang dari penduduk syam (syiria) menawarkan makanan yang dijualnya di Madinah. Orang itu berkata, “siapakah yang dapat menunjukkan aku kepada Ka’ab bin Malik ?”. Maka orang-orangpun menunjukkannya dengan mengisyaratkan tangan kearahku. Maka iapun menemuiku dan menyerahkan surat dari raja Ghossan. akupun membacanya yang isinya : ….Amma ba’du, kami telah mendengar berita, bahwasannya shahabatmu (Muhammad) telah mengucilkanmu. Dan sesungguhnya ALLÂH tidak menjadikanmu dinegeri ini hina dan sia-sia. Oleh karenannya bergabunglah dengan kami, aku akan menolongmu”

Begitulah ia harus melewati hari-harinya yang pahit, waktu yang panjang yang harus dia lalui dalam kesedihan, rasa cemas dan gelisah. Sikap Rasûlullâh saw dan kaum muslimin kepadanya sudah membuatnya pilu. Bumi yang luas dirasakannya telah menjadi sempit baginya. Tiada hari yang ia lalui kecuali dengan jeritan hati kepedihan… tiada malam yang dilewati kecuali dengan perasaan sedih. Kini ujianpun bertambah pula, Ghossan, yang merupakan raja orang-orang nasrani di syam yang selama ini memusuhi kaum muslimin, turut memanfaatkan situasi ini. Kini ia dibujuk untuk bergabung dengan musuh yang selama ini pula ia berperang melawannya…. Rayuan yang halus dengan tawaran yang menjanjikan untuk kehidupannya… sebuah ujian berat yang semakin menambah ujian yang selama ini sudah ia derita.

Namun ia seorang mukmin sejati. Kejujurannya dihadapan Rasûlullâh saw atas ketidak ikutsertaannya dalam perang tabuk cukup menjadi modal untuk selalu mendahulukan ALLÂH ,Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Bujukan dunia dan materi yang menggiurkan tidak membuatnya goyah, ia tetap tegar menunggu keputusan ALLÂH dari atas langit apa yang akan dia terima dengan kesalahannya. Ia lebih mencintai orang-orang mukmin dan mengharap keridhaan ALLÂH dan Rasul-Nya. Dengarlah teladan kita ini apa yang dia katakan ketika selesai membaca surat itu. ia berkata, “Demi ALLÂH …! ini juga termasuk ujian”…. Subhaanallah, ucapan keteguhan dalam memegang prinsip-prinsip kecintaan dan permusuhan yang terpatri dalam jiwanya yang luhur…. dan tak cukup disitu, sejurus kemudian ia juga membakar surat itu diperapian. 

Setelah mereka bertiga ditempa dengan ujian demi ujian keimanan, ALLÂH pun menerima taubat mereka pada hari ke 50. Pengampunan dan sekaligus penghargaan yang datang dari atas langit ketujuh dengan turunnya ayat 118 surah at-taubah.

Pelajaran dan ‘ibroh yang besar bagi kita dari jiwa-jiwa yang agung dalam sejarah islam, seharusnya menjadi teladan yang senantiasa ada dalam kehidupan nyata kita hari ini. Hal itu tidaklah mustahil, asalkan kita tetap memegang prinsip-prinsip yang benar yang ditunjukkan oleh ajaran Islam. 

Selain contoh sikap al-wala' dan al-baro' diatas, contoh kejujuran dan keteguhan menjadi sorotan pelajaran yang harus ditiru. Disamping kita coba memahami kembali betapa besar dosa dan kesalahan bagi orang-orang yang meninggalkan jihad tanpa udzur syar'i dikala jihad fardlu ‘ain sebagaimana perang tabuk kala itu, yang seharusnya kita berkaca untuk memperhatikan kewajiban jihad hari ini yang juga sudah merupakan fardlu ‘ain, sampai kembalinya tanah terakhir kepangkuan islam dari tanah-tanah yang dahulunya ditegakkan syari’at islam.

Wallahu a’lam.

*** Rujukan : Tafsir Ibnu Katsir (surah attaubah : 118) ; Al-wala walbaro fil-islam (syekh Muhammad Said bin al-Qahthani) ; dan Dibawah Naungan surah at-taubah (syekh Abdullah Azzam rahimahullah).

Memberi Pinjaman Kepada Allah

Kisah yang patut direnungkan. Semoga bisa memotivasi kita untuk berinfaq di jalan Allah.
Allah Ta’ala berfirman,


مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al Hadid: 11)
‘Umar bin Khottob mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah berinfaq di jalan Allah. Ada pula yang mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah memberi nafkah pada keluarga.

Yang tepat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir bahwa yg dimaksudkan dengan ayat ini adalah berinfaq di jalan Allah secara umum (baik itu di jalan Allah atau menafkahi keluarga) dengan niat yg ikhlas dan tekad yg jujur, ini semua tercakup dlm ayat di atas.

Ayat di atas semisal dengan firman Allah Ta’ala,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS. Al Baqarah: 245)

Kisah Abu Dahdaa

‘Abdullah bin Mas’ud menceritakan bahwa tatkala turun ayat di atas (surat Al Hadid ayat 11), Abud Dahdaa Al Anshori mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Betul, wahai Abud Dahdaa.”
Kemudian Abud Dahdaa pun berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah tanganmu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyodorkan tangannya. Abud Dahdaa pun mengatakan, “Aku telah memberi pinjaman pada Rabbku kebunku. Kebun tersebut memiliki 600 pohon kurma.

Ummud Dahda, istri dari Abud Dahdaa bersama keluarganya berada di kebun tersebut, lalu Abud Dahdaa datang dan berkata, “Wahai Ummud Dahdaa!” “Iya,” jawab istrinya.
Abud Dahdaa mengatakan, “Keluarlah dari kebun ini. Aku baru saja memberi pinjaman kebun ini pada Rabbku.”
Dalam riwayat lain, Ummud Dahdaa menjawab, “Engkau telah beruntung dengan penjualanmu, wahai Abud Dahdaa.”
Ummu Dahda pun pergi dari kebun tadi, begitu pula anak-anaknya.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun terkagum dengan Abud Dahdaa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Begitu banyak tandan anggur dan harum-haruman untuk Abud Dahdaa di surga.” Dalam lafazh yang lain dikatakan, “Begitu banyak pohon kurma untuk Abu Dahdaa di surga. Akar dari tanaman tersebut adalah mutiara dan yaqut (sejenis batu mulia).”
(Riwayat ini adalah riwayat yang shahih. Dikeluarkan oleh Abdu bin Humaid dalam Muntakhob dan Ibnu Hibban dalam Mawarid Zhoma’an)
Masya Allah …Adakah di antara kaum muslimin saat ini yang bisa memberi pinjaman di jalan Allah seperti ini?

Inilah investasi yg baik di jalan Allah. Ini bukan berarti Allah butuh pada pinjaman seorang hamba. Namun sebenarnya, hamba-lah yang butuh dengan hal seperti ini dan itu semua juga ia akan menuai hasilnya di akhirat. Ini adalah karunia Allah agar hamba tersebut mendapatkan ganti yanga lebih baik di akhirat kelak.

Semoga Allah memberikan kita anugerah dan berkah pada segala harta titipan-Nya yang kita investasikan di jalan Allah.

Referensi: Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Tafsir surat Al Hadiid ayat 11, 13/414-415, Muassasah Qurthubah

Kamis, 04 Oktober 2012

PKL di sorong dan sulsel..


Cerita tentang ini sudah mencapai Timur wilayah Indonesia meski baru 3 bulan di jalani..


sorong, Papua Barat, dan Sulawesi Selatan.

check this out..



Sabtu, 25 Agustus 2012

LOVE STORY - Akhir kisah min

Serial Cinta <chapter 5>
Akhir kisah min
oleh : Kubil Kamal



sudah lama tidak menulis lagi tentang perjalanan ini..

anggap lah ini hanya sebuah cerita yang sering mengganggu pikiranku..
sebuah cerita yang tak perlu di pendam di dalam hati..
sebuah kisah .. hanya kisah.. yang cukup di ambil pelajarannya saja.. tak perlu di ambil yang lain-lain.

"bila di suruh memilih antara 'tidak mengenalmu dengan melupakanmu' aku akan memilih untuk tidak mengenalmu."

monyet
regina frista haris

sakittttt..
perihhh..
pedisss..

Ahhh... ingin ku cabut saja nyawaku saat itu..

memang.. perjalanan cinta kepada manusia khususnya bukan 1 mahram, akan berakhir menyedihkan..
ITU PASTI, sejak saat itu aku tak ingin menjalin asmara lagi..

sebab sudah ada ALLAH tempat kita bercumbu.. mengadu sepuas hati tanpa ada batasan.
bukan manusia yang seharusnya jadi tempat menagih simpati..



Tuhan dulu pernah aku menagih simpati

Kepada manusia yang alpa jua buta
Lalu terheretlah aku dilorong gelisah
Luka hati yang berdarah kini jadi parah



Semalam sudah sampai kepenghujungnya
Kisah seribu duka ku harap sudah berlalu
Tak ingin lagi kuulangi kembali
Gerak dosa yang menhiris hati



Tuhan dosa itu menggunung
Tapi rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
Hanyalah setitis nikmat-Mu di bumi



Tuhan walau taubat sering kumungkir
Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
Bila selangkah kurapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padaku


Raihan : mengemis kasih.

ku robek, ku bakar, ku telan (#Lho
ku bakar semua kenangan bersama dia..
foto, surat cinta, dsb..
bahkan parahnya ketika kita berpapasan aku memanggil dia 'eh perek..'


hmhmm

itu semua masa lalu..
sekarang aku dan dia tetap menjalin pertemanan. agar silaturahmi diantara kita tetap terjaga.
rasanya kita sudah melupakan kenangan itu semua,.

semua berlalu biarlah berlalu..
jadikan itu semua sebagai pelajaran penting bagi kita di masa depan kemudian,

oleh: Kubilkamal

Selasa, 31 Juli 2012

LOVE STORY - Surat Cinta

Serial Cinta <chapter 4>
Surat Cinta 
oleh : Kubil Kamal

Informasi dan komunikasi berkembang pesat pada zaman sekarang ini, namun tidak demikian pada ketika aku kelas 6 MIN, meski handphone genggam sudah bermunculan, namun hanya sedikit yang memilikinya pada seusia saya yang dikala itu masih 12 tahun.

singkat kata singkat cerita ku jalin komunikasi dengannya pake surat #cie cie..
masih ingat-ingat pikun di pikiran tentang sejumlah pantun-pantun pembuka, dan penutup seperti :


"empat kali empat samadengan eman belas
Sempat tidak sempat harus di balas".

bosen kalo ngomongin yang beginian mending kita percepat ceritanya..

ada satu perempuan lagi namanya Mutiara

monyet

diam diam dia suka juga sama Ubay Dillah..
tanpa ubay menyadarinya..

dibelakang ku kedua wanita itu bertengkar lewat surat menyurat di antara mereka, dan pada suatu ketika entah mengapa surat dari mutiara ke egi nyangsang ke ruang guru..

weleh-weleh..
egi dan mutiara di panggil dan di sidang..
tak lama aku pun di panggil jua.

entah bagaimana perasaanku saat itu, pertama bingung kenapa tiba-tiba di panggil ke ruang guru.
ternyata disana sudah ada egi dan mutiara duduk tampak murung.

nggak sanggup lanjutin tulisannya.. di sambung nanti aja ya..

daaaa...











Sabtu, 21 Juli 2012

Jembatan pelangi (jembatan pelengkung) - sulawesi selatan


Bismillahirrahmanirrahim,,

Disinilah aku berada sekarang. Makassar.
indah bila kita menikmati segala suasana dan panorama yang ada di dalamnya.

kali ini aku akan sedikit membahas salah satu keindahan dari segi pembangunan dan dari segi arsitektur.wilayah sulawesi selatan yaitu jembatan.

karna memang beradanya aku disini tak lepas dari pembangunan jalan dan jembatan yang ditangani oleh PT. WIKA tempat aku menjalani Pendidikan Sistem Ganda.

okke.. kita kembali ke jembatan. sebut saja namanya Jembatan Pelengkung atau sebagian orang memberikan nama jembatan pelangi, jembatan yang pengerjaannya di mulai sejak tahun 2009 yang memakan waktu pengerjaan satu sampai dua tahun ini memang patut menjadi maskot sulawesi selatan karna keindahannya.


1. jembatan sungai pute



Jembatan Pute ini terletak di KM 37 + 800 terletak di kabupaten marros yang pengerjaannya paling lama dari semua jembatan yang dibangun oleh wika, Jembatan ini termasuk tipe jembatan Fixed Arch.



ciri khas utamanya adalah warna putih.

dan terdapat pasar apung dibawah jembatan ini







2. Jembatan  sungai Takkalasi



Jembatan Takkalasi ini terletak di KM 112+026 terletak di kabupaten barru, jembatan ini bertipe Two Pin Arch, ciri khasnya berwarna biru, dan memiliki 2 pelengkung atau 2 pelangi yang di sanggah oleh 1 pier di tengahnya.









3. Jembatan Sungai Lampoko

 Jembatan ini terletak pada KM 116+400, berada di kabupaten barru, Kecamatan ballusu. Jembatan ini memiliki tipe Arch dengan 1 pelengkung bercat merah muda.

di Lampoko ini terdapat sebuah PLTU di dekat pantai bagian barat.

Jarak Antara Jembatan Takkalasi dengan Jembatan Lampoko cukup dekat lho..



4. Jembatan Sungai Wiringtasi

Jembatan Wiringtasi, Jembatan Pelangi yang berikutnya ini berwarna Hijau, Memiliki tipe Arch, terletak di kabupaten Barru, pada KM 121+200

foto tahun 2009

5. Jembatan Sungai Bojo



berikut pengerjaan jembatan pelengkung tsb.






Berikut salah satu proses pengerjaan pembangunan jembatan pelengkung tsb. 











my facebook

Popular post

-.-