(",)

Kamis, 27 Desember 2012

hanya senilai Segelas Air

SUATU hari tampak Khalifah Harun AI-Rasyid salah seorang Khalifah dari Dinasti Bani Abbasiyah yang terkenal dengan kebaikan dan kesolehannanya, seorang khalifah yang sangat tawaddu'.

Suatu hari beliau duduk dengan gelisah dan tidak tahu apa sebabnya, tampak duduknya tidak tenang, sekali-kali berdiri dan kemudian duduk kembali begitu seterusnya. Khalifah Harun Al- Rasyid memerintahkan salah seorang pengawalnya untuk mengundang seorang ulama 'yang sholeh dan tawaddu' pada masa itu, seorang ulama' yang tidak pernah mau dekat dan menerima jabatan apapun dari Khalifah dan hal itu membuat Khalifah Harun AI-Rasyid sangat menghormatinya, yaitu Abu As Sammak.

Ketika Abu As Sammak datang kehadapannya, Khalifah langsung berkata "nasehatilah aku, wahai Abu As Sammak, ulama' yang baik dan berpendirian teguh," demikian mulia permohonan dari Khalifah yang mempunyai kekuasaan tiada banding kala itu kepada seorang ulama yang sangat bersahaja datang kehadapannya dengan berjalan kaki.

Pada saat itu datang seorang pelayan dengan membawa segelas air untuk Khalitah Harun AI-Rasyid, dan ketika dia bersiap untuk meminumnya, Abu As-Sammak berkata : "Tunggu sebentar wahai Amirul Mukminin. Demi Allah, aku mengharap agar pertanyaanku dijawab dengan kejujuranmu. Seandainya anda berada dalam kehausan yang tak tertahan lagi, tapi segelas air ini tak dapat anda minum, berapa harga yang bersedia anda bayar demi melepaskan dahaga?".

"Setengah dari yang kumiliki," ujar sang Khalifah dan langsung meminum segelas air tersebut. Beberapa saat kemudian setelah sang Khalifah meminum segelas air tersebut, Abu As- Sammak bertanya kembali, "seandainya apa yang telah anda minum tadi tak dapat keluar kembali, sehingga mengganggu kesehatan anda, berapakah anda bersedia membayar untuk kesembuhan anda?".

"Setengah dari yang kumiliki," jawab Khalifah Harun AI- Rasyid tegas. "Ketahuilah bahwa seluruh kekayaan dan kekuasaan di dunia yang nilainya hanya seharga segelas air tidak wajar diperebutkan atau dipertahankan tanpa hak dan kebenaran," kata Abu As Sammak kepada Khalifah Harun AI-Rasyid.

Khalifah Harun AI-Rasyid yang kekuasaannya meliputi negara yang amat luas dan Bani Abbasiyah dalam puncak kejayaan membenarkan ucapan Abu As Sammak, demikian agung dan jujur Khalifah Harun Al- Rasyid begitu juga dengan Abu As Sammak yang berani dan tegas terhadap penguasa.

sumber : Sabili

Jumat, 14 Desember 2012

Ka'ab bin Malik : "saya tidak punya alasan"

Implementasi al-wala' wal baro` dalam kehidupan nyata seringkali difahami salah atau tidak tergambar dalam benak kaum muslimin bagaimana sesungguhnya. Marilah kita tengok kisah nyata sebagai teladan yang baik bagi kita dalam hal ini.

Adalah Ka’ab bin Malik seorang shahabat mulia diantara 3 shahabat yang tertinggal dalam perang Tabuk. Ia sangat menyesal dengan absennya pada ibadah jihad yang mulia ini, rasa penyesalan yang tiada terkira karena ia benar-benar tertinggal dari pasukan yang berangkat akibat kelalaiannya dia sendiri dengan mengulur-ulur waktu dalam mempersiapkan keberangkatannya. Rasa sedih yang mendalam yang dia alami, ia pula merasa seakan sudah menjadi seorang munafik sebagaimana orang-orang munafik lainnya yang dengan sengaja menghindar dari “kewajiban” ini, apalagi jika ia teringat bahwa untuk perang yang satu ini Rasûlullâh saw sendiri menyerukan mobilisasi umum kepada kaum muslimin saat itu dan instruksi untuk mendermakan harta sebagai infâq fî sabîlillâh bagi perbekalan pasukan untuk perang yang besar ini. 

Disaat orang-orang munafik yang jumlahnya lebih dari 80 orang menghadap Rasûlullâh saw dan mengutarakan alasan-alasan mereka dengan kedustaan dan kebohongan. Ka’ab bin Malik datang menemui Nabi saw yang mulia guna menyampaikan alasan ketidak-ikutsertaannya. Ia sebenarnya bisa memberikan alasan yang bisa dibuat-buat dengan berdusta, dan Rasûlullâh saw akan membenarkan perkataanya. Tetapi ia bukanlah seorang munafik, ia sadar bahwa ALLÂH tidak mungkin untuk ditipu dan Rasûlullâh saw tidak semestinya dikhianati. Ia rela apapun yang akan terjadi dan hukuman yang bakal diterimanya, karena memang ia seorang mukmin dan mujahid sejati, sehingga dengan jujur dia berkata “…… Demi ALLÂH , saya tidak memiliki alasan apapun….”.

Inilah dia sekarang harus menerima sanksi yang diberikan Rasûlullâh saw dan para shahabatnya atas ketidak ikutsertaanya dalam perang Tabuk. Hari-hari yang membuatnya bertambah kesedihannya,bukan semata-mata dari hukumannya itu sendiri, akan tetapi sebagai seorang mukmin yang sesungguhnya, ia khawatir digolongkan orang-orang munafiq dan ALLAH Azza wa Jalla tidak mengampuni kesalahannya. Pekan-pekan berlalu ia lalui dengan tubuh yang gontai, jiwa yang selalu gelisah dan perasaan pilu karena Rasûlullâh saw tidak pernah menjawab lagi salam yang diucapkannya,… Demikian pula para shahabat yang lain, tidak satupun dari mereka menjawab salamnya atau walau hanya sekedar berbicara sepatah dua patah kata, mereka membisu dan membuang muka tidak menghiraukannya, seolah dia adalah sebongkah batu yang tidak layak diajak berbicara. Begitulah, karena hal itu memang atas perintah dari Rasûlullâh saw yang melarang untuk berbicara dengan mereka bertiga, Dan yang demikian membuat hati-hatinya terasa diiris-iris, karena dia khawatir sudah tidak digolongkan orang mukmin lagi.

Ka’ab bin Malik menceritakan sendiri apa yang dialaminya, ”kami tetap dalam keadaan seperti itu selama 50 hari. Kedua shahabatku tetap patuh tinggal dirumah masing-masing sambil selalu menangis, sedangkan aku adalah yang paling muda dan paling tabah. Maka akupun tetap keluar mengikuti shalat jama’ah bersama kaum muslimin dan berkeliling dipasar-pasar, akan tetapi tak ada seorangpun yang mengajak berbicara denganku, aku mendatangi Rasûlullâh saw, aku mengucapkan salam kepada beliau yang saat itu sedang duduk sehabis shalat. aku berkata dalam hati,”apakah beliau menggerakkan bibirnya untuk membalas salamku atau tidak ?”. Kemudian aku shalat didekat beliau, aku ikuti pandangan beliau sambil sambil, ternyata disaat aku shalat, beliau selalu memandangku, akan tetapi setelah aku shalat dan aku menoleh kepadanya, beliaupun membuang muka… “ 

Ia melanjutkan kisahnya “… demikianlah keadaan seperti itu berlangsung lama, dimana kaum muslimin tak mengacuhkan aku. Suatu hari aku berjalan kerumah Abu Qotadah dan memanjat pagar rumahnya, ia adalah anak pamanku dan orang yang paling aku cintai. Kemudian aku ucapkan salam kepadanya. Demi ALLÂH , ia sama sekali tidak menjawab salamku. Lalu kukatakan “ Hai Abu Qotadah, semoga ALLÂH membimbingmu, apakah engkau tahu sesungguhnya aku mencintai ALLÂH dan Rasul-Nya ?.... namun Abu Qotadah diam membisu. Selanjutnya kuulangi ucapanku yang pertama, namun ia tetap tidak menjawab. Maka hal itu kuulangi sekali lagi, tetaapi ia tidak memberikan jawaban. Lalu Abu Qotadah berujar “ALLÂH dan Rasul-Nya lebih mengetahui”….. Maka kedua mataku pun menangis mencucurkan air mata, lalu akupun pergi meninggalkan dinding itu…
Dan ketika berjalan dipasar Madinah, tiba-tiba ada seseorang dari penduduk syam (syiria) menawarkan makanan yang dijualnya di Madinah. Orang itu berkata, “siapakah yang dapat menunjukkan aku kepada Ka’ab bin Malik ?”. Maka orang-orangpun menunjukkannya dengan mengisyaratkan tangan kearahku. Maka iapun menemuiku dan menyerahkan surat dari raja Ghossan. akupun membacanya yang isinya : ….Amma ba’du, kami telah mendengar berita, bahwasannya shahabatmu (Muhammad) telah mengucilkanmu. Dan sesungguhnya ALLÂH tidak menjadikanmu dinegeri ini hina dan sia-sia. Oleh karenannya bergabunglah dengan kami, aku akan menolongmu”

Begitulah ia harus melewati hari-harinya yang pahit, waktu yang panjang yang harus dia lalui dalam kesedihan, rasa cemas dan gelisah. Sikap Rasûlullâh saw dan kaum muslimin kepadanya sudah membuatnya pilu. Bumi yang luas dirasakannya telah menjadi sempit baginya. Tiada hari yang ia lalui kecuali dengan jeritan hati kepedihan… tiada malam yang dilewati kecuali dengan perasaan sedih. Kini ujianpun bertambah pula, Ghossan, yang merupakan raja orang-orang nasrani di syam yang selama ini memusuhi kaum muslimin, turut memanfaatkan situasi ini. Kini ia dibujuk untuk bergabung dengan musuh yang selama ini pula ia berperang melawannya…. Rayuan yang halus dengan tawaran yang menjanjikan untuk kehidupannya… sebuah ujian berat yang semakin menambah ujian yang selama ini sudah ia derita.

Namun ia seorang mukmin sejati. Kejujurannya dihadapan Rasûlullâh saw atas ketidak ikutsertaannya dalam perang tabuk cukup menjadi modal untuk selalu mendahulukan ALLÂH ,Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Bujukan dunia dan materi yang menggiurkan tidak membuatnya goyah, ia tetap tegar menunggu keputusan ALLÂH dari atas langit apa yang akan dia terima dengan kesalahannya. Ia lebih mencintai orang-orang mukmin dan mengharap keridhaan ALLÂH dan Rasul-Nya. Dengarlah teladan kita ini apa yang dia katakan ketika selesai membaca surat itu. ia berkata, “Demi ALLÂH …! ini juga termasuk ujian”…. Subhaanallah, ucapan keteguhan dalam memegang prinsip-prinsip kecintaan dan permusuhan yang terpatri dalam jiwanya yang luhur…. dan tak cukup disitu, sejurus kemudian ia juga membakar surat itu diperapian. 

Setelah mereka bertiga ditempa dengan ujian demi ujian keimanan, ALLÂH pun menerima taubat mereka pada hari ke 50. Pengampunan dan sekaligus penghargaan yang datang dari atas langit ketujuh dengan turunnya ayat 118 surah at-taubah.

Pelajaran dan ‘ibroh yang besar bagi kita dari jiwa-jiwa yang agung dalam sejarah islam, seharusnya menjadi teladan yang senantiasa ada dalam kehidupan nyata kita hari ini. Hal itu tidaklah mustahil, asalkan kita tetap memegang prinsip-prinsip yang benar yang ditunjukkan oleh ajaran Islam. 

Selain contoh sikap al-wala' dan al-baro' diatas, contoh kejujuran dan keteguhan menjadi sorotan pelajaran yang harus ditiru. Disamping kita coba memahami kembali betapa besar dosa dan kesalahan bagi orang-orang yang meninggalkan jihad tanpa udzur syar'i dikala jihad fardlu ‘ain sebagaimana perang tabuk kala itu, yang seharusnya kita berkaca untuk memperhatikan kewajiban jihad hari ini yang juga sudah merupakan fardlu ‘ain, sampai kembalinya tanah terakhir kepangkuan islam dari tanah-tanah yang dahulunya ditegakkan syari’at islam.

Wallahu a’lam.

*** Rujukan : Tafsir Ibnu Katsir (surah attaubah : 118) ; Al-wala walbaro fil-islam (syekh Muhammad Said bin al-Qahthani) ; dan Dibawah Naungan surah at-taubah (syekh Abdullah Azzam rahimahullah).

Hotel Anti Bencana

Ancaman pemanasan global, saat ketinggian permukaan laut diperkirakan naik secara ekstrim dan menenggelamkan sebagian planet Bumi, menjadi inspirasi perusahaan arsitektur Rusia, Remistudio. Dalam program arsitektur penanggulangan bencana International Union of Architects, Remistudio merancang sebuah hotel yang bisa berperan sebagai bahtera penyelamat, kalau-kalau bencana dahsyat terjadi. Namanya, Ark Hotel. Bisa didirikan di laut atau darat.
Ark Hotel,konsep Bahtera Nabi Nuh,Kalau Bumi Tenggelam hotel ini tetap selamat
Ini mungkin terdengar seperti perpaduan kisah bahtera Nabi Nuh dan cerita film fiksi ilmiah tahun 1970-an. Namun, hotel berbentuk kerang ini memang didesain tahan yang banjir akibat kenaikan ekstrim permukaan air laut. Juga terhadap gelombang. Ark Hotel dapat mengapung dan timbul secara otomatis di permukaan air.
Tak hanya itu, hotel ini juga tahan gempa, dan bisa didirikan di daerah yang berbahaya secara seismik. Arsiteknya mengklaim, desain yang terdiri dari konstruksi busur dan kabel dengan bantalan bisa mendistribusikan berat secara merata saat terjadi lindu. Selain itu, struktur bawah tanahnya berbentuk tempurung, tanpa tepian atau sudut. Hotel raksasa yang mengambang ini diklaim juga sebagai ‘biosfer’, surga yang nyaman bagi para penghuninya, bahkan saat bencana sekalipun.
Ark Hotel,konsep Bahtera Nabi Nuh,Kalau Bumi Tenggelam hotel ini tetap selamat
Desain hotel futuristik ini menggunakan panel matahari dan instalasi pengumpul air hujan, menjamin ketersediaan energi, juga air bagi para penghuninya. Lingkungan yang mirip rumah kaca juga memungkinkan tanaman tumbuh subur, membantu meningkatkan kualitas udara dan juga menyediakan makanan.
Selain itu, strukturnya yang tembus pandang membuatnya hemat energi di siang hari. Cukup memanfaatkan energi matahari. Untuk memastikan kualitas cahaya, bingkai kaca dilengkapi pembersih otomatis. Menurut Alexander Remizov dari Remistudio, ada dua pertimbangan utama dalam desain ini.
Ark Hotel,konsep Bahtera Nabi Nuh,Kalau Bumi Tenggelam hotel ini tetap selamat
“Pertama, meningkatkan pengamanan dan pencegahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim dan perubahan iklim. Yang kedua adalah melindungi lingkungan alam dari aktivitas manusia,” kata dia, seperti dimuat Daily Mail, 10 Januari 2011.Bahtera ini juga dimaksudkan untuk menjawab tantangan lingkungan global saat ini. Juga untuk mendukung sistem pertahanan hidup.
Ark Hotel,konsep Bahtera Nabi Nuh,Kalau Bumi Tenggelam hotel ini tetap selamat
“Semua tanaman dipilih yang sesuai, efisiensi pencahayaan, dan produksi oksigen. Juga bertujuan untuk menciptakan ruang yang menarik dan nyaman,” kata dia. Remizov menambahkan, atap hotel yang transparan menjamin ada cukup cahaya bagi tanaman dan untuk menerangi interior. Perancangnya mengklaim, Ark Hotel bisa didirikan hanya dalam waktu beberapa bulan di seluruh bagian dunia. “Bagian-bagiannya bisa disatukan dalam waktu tiga sampai empat bulan,” kata Remizov.
Hingga kini hotel ini masih berbentuk rancangan, para arsiteknya sedang mencari investor untuk membuatnya nyata. Selain jadi hotel yang nyaman untuk rehat, Ark Hotel bisa menjelma menjadi lokasi pengungsian di masa depan

my facebook

Popular post

-.-